Berangkat dari Kampus ITS

Team di pos
Bersiap di pos pendakian Tretes sebelum memulai perjalanan

Perjalanan ini dimulai sebagai pelarian singkat dari rutinitas kampus. Kami bertujuh—saya, Arif yang dipanggil Kakek, Ridhwan alias Gibal, Nanang yang kami panggil Om Nanang, Wildan alias Tebo, Dimas yang akrab dipanggil Jarjit, dan Roni—memilih Gunung Arjuno sebagai destinasi petualangan kami. Gunung dengan ketinggian 3.339 mdpl yang terletak di Kabupaten Pasuruan ini bisa didaki melalui tiga jalur: Tretes, Lawang, dan Cangar. Kami memilih jalur Tretes karena jarak dan aksesnya lebih mudah dari Surabaya.

Pukul 18.00 WIB, setelah shalat Maghrib-Isya dan mempersiapkan segala perlengkapan, kami berangkat dengan sepeda motor dari kampus ITS. Perjalanan menuju Tretes memakan waktu dua jam dengan asumsi jalanan lancar tanpa hambatan.

Insiden di Pasuruan

Sepanjang perjalanan dari Surabaya ke Tretes tidak banyak hal menarik yang terjadi. Hanya ada satu kejadian yang cukup mengkhawatirkan: kami hampir mengalami tabrakan beruntun di daerah Pasuruan. Saat itu, seorang pengendara motor dengan nekad mencoba menyalip di antara dua mobil. Tiba-tiba salah satu mobil memepet motor tersebut hingga hampir terjepit. Dalam keadaan terdesak, pengendara itu mengerem mendadak.

Saya yang berboncengan dengan Kakek hanya beberapa meter di belakangnya. Kami langsung mengerem dengan rem tangan dan rem kaki, bahkan kaki saya ikut menahan di aspal. Keadaan itu hampir menyebabkan kecelakaan beruntun. Beruntung kami berhasil berhenti tepat pada waktunya.


Pukul 21.00: Memulai Pendakian

Setelah dua jam melawan malam di jalanan, kami akhirnya tiba di pos pendakian Tretes. Beberapa dari kami—saya, Jarjit, dan Gibal—mengisi perut terlebih dahulu di salah satu warung makan sederhana di dekat pos. Suasana pos pendakian cukup ramai dengan para pendaki yang baru menyelesaikan pendakiannya. Kami adalah satu-satunya kelompok yang baru akan memulai pendakian di malam Minggu, saat kebanyakan orang bersiap untuk kembali beraktivitas keesokan harinya.

Setelah perut terisi dan izin mendaki sudah dikantongi, tepat pukul 21.00 WIB kami memulai pendakian. Sejak awal perjalanan, kami sudah disuguhi tanjakan curam yang berkelok. Cukup menguras tenaga memang, namun kondisi yang masih prima dan nuansa gelap malam membuat kami tidak terlalu merasakan lelah.

Dua puluh menit kemudian, kami mencapai ujung tanjakan ini dan tiba di pos pertama yang bernama Pet Bocor. Pos ini dinamakan demikian karena terdapat pipa bocor yang biasa digunakan para pendaki untuk mengambil air minum. Kami beristirahat sejenak di depan warung kecil yang menyediakan keperluan logistik dan biasanya menjadi tempat berkumpul warga sekitar.

Kami harus beristirahat karena setelah ini perjalanan menuju Pos II Kokopan akan semakin berat. Jalan yang akan kami lalui adalah jalan berbatu dan menanjak—tidak ada lagi jalan yang halus dan datar.


Empat Jam Menuju Kokopan

Perjalanan dari Pet Bocor menuju Pos II Kokopan membutuhkan waktu empat jam. Keadaan yang sudah mulai lelah dan dingin gunung di waktu malam yang semakin menusuk membuat emosi kami—khususnya saya—menjadi labil. Hal ini terlihat jelas saat kami ingin memasang tenda.

camp di kokopan
Tenda di Kokopan

Saya sedikit emosi dan tidak bisa berpikir dengan tenang saat ingin mendirikan tenda yang cukup rumit pemasangannya. Akibatnya, tenda yang saya bangun bersama beberapa teman didirikan secara asal-asalan—yang penting berdiri, jadi, dan bisa ditiduri.

Sebenarnya ada tiga tenda yang kami bawa, namun hanya dua tenda yang kami dirikan. Satu tenda tidak sampai lima menit sudah berdiri karena memang tidak serumit dua tenda lainnya.

Ketika tenda sudah selesai didirikan dan semua barang sudah ditata, kami bergegas masuk untuk segera beristirahat. Kami memang harus segera tidur karena waktu sudah menunjukkan pukul 00.00 WIB, dan pagi-pagi kami harus bergegas meneruskan perjalanan.

Pagi di Kokopan

Matahari pagi mulai menghangatkan tenda, membangunkan saya dari tidur. Saya keluar tenda untuk menikmati pagi—ini kali kedua saya berada di pos Kokopan, karena sebelumnya pernah mendaki Gunung Welirang yang masih satu pegunungan dengan Arjuno.

Suasana di luar tenda sudah sepi, hanya menyisakan beberapa tenda termasuk milik kami. Jam tangan menunjukkan pukul 08.00 WIB. Saya bergegas menuju pancuran untuk berwudhu karena baru teringat belum shalat Subuh. Di pos ini memang terdapat pancuran yang bisa digunakan untuk keperluan minum maupun berwudhu.

Sumber Air kokopan
Mengisi Air minum untuk perjalanan

Selesai shalat, saya membangunkan teman-teman untuk bersiap melanjutkan perjalanan. Setelah perut terisi dan semua perlengkapan sudah di-packing, kami siap berangkat. Waktu menunjukkan pukul 09.00 saat kami siap meneruskan perjalanan.


Tanjakan Penyesalan

Perjalanan menuju Pos III akan lebih menyakitkan dibanding perjalanan sebelumnya. Jalan yang menanjak curam dan berbatu menyulitkan langkah kami. Sesekali kami berhenti sekadar mengatur napas.

Jalur pendakian
Jalur pendakian yang berbatu dan menanjak dengan hutan pinus di sekitarnya

Setelah tiga jam melangkah, langkah kami terhenti pada sebuah tanjakan panjang nan curam. Dengan melihatnya saja sudah membuat kaki ini malas untuk melangkah karena begitu panjang dan curamnya. Tanjakan ini dikenal oleh kalangan pendaki sebagai Tanjakan Penyesalan. Dengan susah payah kami menapaki tanjakan ini, namun semangat yang tetap menyala menghempaskan semua lelah.

Almarhum Om nanang
Om nanang bersiap melanjutkan perjalanan

Setelah melewati Tanjakan Penyesalan, perjalanan selanjutnya tidak ada halangan yang berarti—hanya jalan yang sesekali menanjak lalu turun dengan latar belakang hutan pinus. Begitu terus hingga kami tiba di Pos III Pondokan.

Tiba di Pondokan

Saya, Tebo, Jarjit, Roni, dan Gibal sampai duluan di Pos III Pondokan sekitar pukul 14.30, sementara Kakek dan Om Nanang masih tertinggal di belakang. Rencananya begitu kami sampai, akan langsung mendirikan tenda. Namun kenyataan tidak seindah rencana—alih-alih mendirikan tenda, kami malah tertidur di depan plang bertuliskan Pos III Pondokan. Cukup lama kami tertidur di sana, kurang lebih 30 menit.

Plang pertigaan
Plang pertigaan di Pos III Pondokan - kiri menuju Arjuno, kanan menuju Welirang

Pos III sebenarnya adalah tempat tinggal sementara para penambang belerang di Gunung Welirang. Dari Senin hingga Kamis mereka tinggal di sini, lalu Jumat sampai Minggu turun berjumpa dengan keluarga masing-masing. Setiap hari para penambang ini membawa belerang dari puncak Welirang sampai Pondokan dengan beban 100-200 kg per hari menggunakan gerobak seadanya.

Istirahat
Beristirahat sejenak

Di Pos III ini juga terdapat pertigaan: jika ke kanan menuju puncak Welirang, jika ke kiri menuju puncak Gunung Arjuno. Urusan air tidak perlu khawatir—di sini terdapat sumber air walau harus sedikit bersusah payah untuk mencapainya karena sumber air berada di bawah pos.

Segera setelah terbangun, kami mendirikan tenda. Tak lama kemudian Om Nanang dan Kakek tiba dengan gurat lelah di wajah mereka. Perjalanan tadi memang sangat menguras tenaga, apalagi untuk Om Nanang yang perlu usaha ekstra karena tubuhnya sedikit tambun.

Istirahat di Pondokan

Setelah tenda berdiri, waktunya untuk beristirahat. Saya langsung masuk ke tenda, sementara teman-teman lainnya membantu Jarjit memasak—kebetulan Jarjit adalah koki gunung kami.

Tidak banyak yang terjadi di pos ini. Kebanyakan waktu kami dihabiskan untuk beristirahat, selebihnya diisi dengan makan, ngobrol, dan main poker sebentar. Lelah yang kami rasakan membuat kami memutuskan untuk beristirahat lebih awal demi menyiapkan tenaga untuk esok hari.


Hari baru telah tiba di Bumi Arjuno. Ini hari kedua kami berada di antara kerindangan alam. Pagi ini energi baru sudah terkumpul, kami siap untuk ke puncak. Semua anggota pendakian ikut ke puncak kecuali Om Nanang yang memilih tidak ikut. Setelah mempersiapkan logistik yang dibutuhkan, kami pun siap melangkah.

Lembah Kijang

Tujuan pertama sebelum ke puncak adalah Lembah Kijang—dibutuhkan waktu kurang lebih 20 menit untuk mencapainya dari Pondokan. Dari beberapa literatur yang saya baca, Lembah Kijang adalah sebuah lembah hijau berisi kijang-kijang. Saya membayangkan betapa indahnya lembah itu dengan rumput hijau dan kijang-kijang yang berlarian kesana-kemari.

Lembah Kijang Arjuno
Lembah Kijang dengan hamparan rumput hijau dan hutan pinus

Namun kenyataannya, ketika sampai di sana tidak ada kijang sama sekali. Tetapi bagaimanapun lembah ini tetap indah—rumput-rumput hijau melambai tersapu angin, beberapa pohon pinus berdiri gagah dengan Puncak Arjuno sebagai latar belakang. Sebuah simfoni alam yang sempurna.

Team di Lembah Kijang
Berfoto di Lembah Kijang dengan latar belakang Puncak Arjuno

Perjalanan menuju Lembah Kijang tidak terlalu sulit, hanya jalan tanah yang datar. Namun bagi yang belum pernah ke Gunung Arjuno disarankan untuk tidak summit pada malam hari karena jalan yang agak tidak jelas dan bercabang.

Perjalanan ke Puncak

Gunung penanggungan
Pemandangan gunung penanggungan dari pos kokopan

Perjalanan dari Lembah Kijang menuju puncak tidak bisa dilukiskan sempurna dengan kata-kata. Yang ada hanya pemandangan yang terus berubah—gunung kembar di kejauhan, lembah hijau yang luas, awan putih yang hampir bisa disentuh, dan akhirnya puncak Gunung Arjuno di ketinggian 3.339 mdpl.

Puncak Arjuno
Puncak Arjuno yang diselimuti awan

Di Puncak

Plang menuju puncak
Jalur ke puncak

Kami tiba di puncak dengan napas terengah-engah namun hati penuh kebahagiaan. Di sana kami mengibarkan bendera Teknik Fisika ITS dan bersantap sambil menikmati pemandangan.

Makan Di puncak
Bersantap di puncak dengan pemandangan awan di bawah kaki
pos kokopan
Menikmati pemandangan gunung penanggungan sambil beristirahat

Semua kesakitan di perjalanan terbayar lunas di momen ini.


Perjalanan Turun yang Mistis

Perjalanan turun dari puncak ke Pondokan relatif lancar meski sempat diguyur hujan. Kami melanjutkan perjalanan turun dari Pondokan melewati Kokopan hingga akhirnya turun dari Pos II menuju Pet Bocor. Di sinilah hal yang tidak biasa terjadi.

Hutan berkabut
Hutan pinus yang diselimuti kabut tebal - Suasana terasa magical

Hari sudah gelap. Tidak ada pendaki lain kecuali kami. Tubuh sudah melemah, kaki mulai cedera, ditambah stamina yang terus menurun karena hujan yang sebelumnya mengguyur kami di perjalanan turun dari puncak. Kami terus melangkah menyusuri jalan berbatu.

Kabut di lembah
Kabut tebal menyelimuti lembah saat perjalanan turun

Sepanjang jalan saya hanya bisa terdiam, begitu juga dengan teman-teman yang lain. Malam menampakkan ketenangannya, alam pun begitu sunyi—tidak ada satu pun suara yang keluar darinya. Begitu tenangnya kami berjalan hingga tak terasa sudah tiga jam berlalu, namun kami belum juga sampai di tempat tujuan.

Menurut pengalaman saya, perjalanan turun dari Pos II menuju Pet Bocor hanya membutuhkan waktu 1 jam 30 menit. Sejak tadi saya menemukan kejanggalan di perjalanan ini—seperti merasakan berputar-putar di tempat yang sama, seperti kembali lagi dan kembali lagi. Namun hal ini tidak berani saya utarakan. Saya tidak tahu apa yang ada di pikiran teman-teman karena mereka pun hanya membisu dari tadi. Kami tetap meneruskan perjalanan tanpa bersuara.

Sampai di Pet Bocor

Setelah empat jam berjalan dari Pos II, kami akhirnya tiba di Pet Bocor. Tiga puluh menit kemudian kami sudah tiba di pos pendakian. Kelegaan mengalir dalam hati saya, ucapan syukur terus terucap dari mulut saya.

Di sinilah saya baru berani mengutarakan apa yang saya rasakan tadi kepada teman-teman. Ternyata mereka pun berpikiran hal yang sama tetapi tidak ada yang berani mengatakannya. Kemudian Roni bercerita bahwa dia membuat semacam tanda ketika kami sejenak beristirahat di perjalanan turun. Ketika kami sudah berjalan beberapa menit kemudian, dia menemukan tanda yang sama seperti yang dia buat.

Sesaat bulu kuduk kami merinding, tetapi tidak ada yang berani membahas lebih jauh. Biarlah—bukankah memang gunung selalu menyimpan rahasia di balik megahnya?


Refleksi Perjalanan

Gunung Arjuno
Gunung Arjuno yang megah - guru yang mengajarkan banyak pelajaran hidup

Pendakian Gunung Arjuno via jalur Tretes ini memberikan pengalaman yang tidak terlupakan. Dari tanjakan curam di awal perjalanan, Tanjakan Penyesalan yang menguji mental dan fisik, keindahan Lembah Kijang dan puncak Arjuno, hingga pengalaman mistis di perjalanan turun—semua menjadi pelajaran berharga.

Gunung mengajarkan tentang kesabaran dalam menghadapi tantangan, kerendahan hati mengakui keterbatasan diri, dan rasa syukur atas setiap pencapaian. Ada juga pelajaran dari para penambang belerang yang setiap hari membawa beban ratusan kilogram—mengingatkan bahwa ada orang-orang yang bekerja keras dengan kondisi yang jauh lebih berat.

Dan yang terpenting, ada pengingat bahwa alam menyimpan misteri yang tidak bisa dijelaskan dengan logika—sesuatu yang harus kita hormati dan tidak boleh kita remehkan.


Pendakian dilakukan pada Juni 2013 via jalur Tretes - Pet Bocor - Kokopan - Pondokan - Lembah Kijang - Puncak Arjuno (3.339 mdpl)

Durasi: 2 hari 1 malam
Tingkat Kesulitan: Sedang-Sulit
Catatan: Kondisi jalur dan peraturan mungkin sudah berubah. Selalu cek informasi terkini sebelum mendaki.