"Perjalanan mengantarkan ku pada kesejatian"
Prolog: Membuka Kotak Kenangan
Minggu ini, saya mencoba membongkar kotak kenangan lama. Sekadar mengambil pelajaran dan bernostalgia dengan masa silam. Di tengah kesibukan membongkar, saya menemukan satu kepingan cerita di antara banyak memori yang berserakan—sebuah kisah tentang perjalanan yang tak terlupakan. Perjalanan menapaki jalan yang lurus menuju Gunung Bromo.
Fajar di Stasiun Gubeng
Pagi hari di Kota Pahlawan. Jarum jam dinding baru menunjuk angka 4.30. Matahari masih tertidur pulas dan hari masih terasa sunyi, hanya sesekali suara hewan nokturnal memecah keheningan malam yang tersisa.
Di pagi buta seperti itu, saya bersama Arif—biasa dipanggil Kirik, Dion, Wildan alias Tebo, dan Alfian sudah meringkuk di depan Stasiun Gubeng Surabaya. Kondisi kami saat itu mirip para gelandangan tanpa tempat tinggal. Kami sedang menunggu kereta yang akan membawa kami ke Malang. Ya, tujuan kami adalah Malang, dan dari sana melanjutkan perjalanan ke Gunung Bromo.
Ada kejadian lucu saat kami tidur di stasiun. Ketika sedang berselancar di alam mimpi, tiba-tiba terdengar teriakan keras, "BANGUN-BANGUN.... SEBELUM AYAM BERKOKOK KITA SERANG PAPUA NUGINI!"
Tersentak kaget, saya langsung terjaga. Ternyata yang berteriak adalah seorang kakek berusia sekitar 70-an yang tampaknya agak "tidak waras". Setelah kejadian aneh itu, saya mencoba tidur kembali sambil bergumam dalam hati, "Emangnya Papua Nugini salah apa sampai mau diserang?" Ada-ada saja memang.
Tiba di Kota Malang
Akhirnya kami tiba di Malang setelah berdesak-desakan di dalam gerbong kereta ekonomi. Maklum, kondisi kereta saat itu masih dipenuhi para pedagang—mulai dari tukang cas HP hingga penjual makanan, dari pengamen hingga... ya, tukang copet. Berbeda dengan kereta ekonomi sekarang yang sudah tertib dan nyaman.
Udara Malang benar-benar menyegarkan, terlebih karena waktu masih pagi. Kesegaran merasuki setiap sudut paru-paru kami yang sepertinya sudah sekarat karena terlalu banyak menghirup polusi di Surabaya.
Di kesejukan kota apel ini, kami berputar-putar mencari informasi arah ke Bromo. Jujur saja, di antara kami berlima, belum ada satupun yang pernah ke Bromo. Setelah bertanya sana-sini, kami mendapat informasi bahwa kami harus ke Pasar Tumpang terlebih dahulu untuk kemudian menyewa jip menuju Bromo. Perjalanan pun berlanjut.
Petualangan di Pasar Tumpang
Kami menggunakan angkot dari Stasiun Malang menuju Pasar Tumpang. Perjalanan memakan waktu sekitar 45 menit. Sesampainya di sana, hal pertama yang kami lakukan adalah mencari sarapan karena perut sudah protes keras.
Kami berpencar mencari makan. Dion, Kirik, dan Alfian menemukan warung untuk sarapan, sementara saya dan Tebo memutuskan membeli roti di Indomaret sekalian membeli perbekalan untuk ke Bromo. Saat itu saya sedang malas makan nasi, sedangkan Tebo memang dari kecil tidak bisa makan nasi.
Berburu Jip
Setelah perut terisi, kami mulai menjelajahi Pasar Tumpang untuk mencari jip. Namun siapa sangka, lelah kami berkeliling, jip yang kami cari tak kunjung ditemukan. Kami terus berjalan hingga sekitar 300 meter dari pasar dan tiba di sebuah tempat yang penuh dengan sapi—bahkan jumlah sapinya lebih banyak dari manusia!
Ternyata di tempat itu sedang ada pelelangan sapi. Puas melihat-lihat sapi, kami kembali ke misi utama: mencari jip. Setelah bertanya ke sana-kemari, akhirnya kami dapat informasi bahwa jip bisa disewa di agen dekat Alfamart yang ternyata berada tepat di depan pasar. Alamak! Putar-putar mencari, padahal yang dituju ada di depan mata sejak tadi.
Negosiasi yang Mengejutkan
Kami segera menuju agen tersebut dan mulai bernegosiasi untuk menyewa jip. Herman, sang agen, menjelaskan bahwa untuk menyewa jip harus membawa 15 orang dengan harga Rp450.000 sekali jalan. Artinya kalau pulang-pergi, kami harus merogoh kocek Rp800.000!
Kami tercengang. Bagi mahasiswa dengan ekonomi yang—ehm—"terbatas" seperti kami, mana mungkin sanggup bayar segitu? Berangkat ke Bromo saja ini hasil mengais sisa-sisa tabungan. Lagipula, kami hanya berlima, bukan 15 orang. Dengan berat hati, kami menolak penawaran tersebut.
Superhero Datang di Saat Genting
Hampir putus asa, kami duduk-duduk di depan Indomaret sambil berembug mencari solusi. Ide-ide gila bermunculan—dari naik angkot hingga jalan kaki.
Di tengah diskusi itu, tiba-tiba sebuah angkot putih mendekat, bak superhero yang datang di saat krusial. Sang supir bertanya, "Mau ke mana, Mas?"
"Ke Bromo, Mas," jawab Dion.
"Ayo ikut saya saja, tapi saya antar sampai pertigaannya aja ya. Mobilnya gak kuat kalau sampai Bromo."
Kami berunding sebentar dan sepakat untuk menyewa angkot tersebut dengan ongkos Rp300.000 sekali jalan. Sang supir dan keneknya pun segera mengendarai angkot menuju Bromo—atau setidaknya mendekati Bromo.
Journey to Bromo: Antara Menegangkan dan Menakjubkan
Perjalanan dari Pasar Tumpang menuju Bromo terbagi dalam dua fase: naik angkot dan berjalan kaki.
Fase 1: Naik Angkot
Perjalanan dengan angkot ini adalah pengalaman yang menegangkan, mengesankan, dan menyenangkan sekaligus.
Menegangkan karena jalanan yang dilalui ternyata cukup curam dengan jurang di kanan-kiri. Satu salah stir sedikit saja, habis sudah kami semua.
Mengesankan karena di tengah perjalanan, angkot kami tidak kuat menaiki tanjakan yang lumayan curam. Jadilah kami semua turun dan mendorong angkot—kecuali Alfian yang dengan tenang tertidur di kursi depan dekat sopir.
Menyenangkan karena sepanjang perjalanan, kami disuguhkan pemandangan kebesaran Allah yang luar biasa. Pepohonan hijau, udara segar, burung-burung beterbangan—semuanya begitu indah. Semua perasaan itu bersatu menjadi satu kata: luar biasa.
Fase 2: Berjalan Kaki—Yang Paling Berkesan
Ini fase yang paling mengesankan bagi saya. Setelah angkot sampai di pertigaan yang dituju, sang supir menurunkan kami sambil berkata dengan penuh percaya diri, "Ini namanya Pertigaan Ngadas, Mas. Kalau belok kanan, itu ke Ranu Pani—pos pendakian Gunung Semeru. Kalau yang kiri ini ke Bromo, tinggal lurus aja, deket kok!"
Kami pun percaya dan berterima kasih kepada sang supir yang tampak yakin.

Pertigaan Ngadas - awal petualangan jalan kaki kami
Shalat dan... Botol "Ajaib"
Sebelum melanjutkan perjalanan, kami menyempatkan diri untuk shalat Dzuhur karena memang sudah masuk waktu—sekitar pukul 12 siang.
Oh iya, ada cerita konyol. Kami melanjutkan perjalanan dengan menenteng botol-botol berisi... air kencing kami. Kenapa? Karena kami sangking polosnya berprinsip jangan pernah buang air sembarangan di gunung. Jadilah botol Aqua 1,5 liter menjadi "toilet berjalan" kami. Cerdas atau konyol? Entahlah.
Menapaki Savana yang Menakjubkan
Perjalanan selanjutnya kami disajikan kemegahan Tuhan yang sungguh luar biasa. Di kanan-kiri kami terdapat bukit-bukit hijau yang kalau dibaratkan seperti bukit di film Teletubbies—cantik sekali!

Hamparan lembah hijau yang memukau - seperti bukit Teletubbies
Jalan yang kami tapaki berupa hamparan savana luas dengan sedikit pasir. Angin semilir sering bertiup menyapa kami dengan mesra. Meski saat itu tengah hari dan matahari sedang tinggi-tingginya, kami sama sekali tidak merasakan panas.

Terus melangkah di bawah awan dramatis yang mengiringi perjalanan

Menapaki jalan tanah menuju Bromo - perjalanan yang panjang namun indah
Kami terus berjalan di padang savana itu sambil sesekali beristirahat dan berfoto untuk mengabadikan keindahan alam. Namun Gunung Bromo tak kunjung terlihat meski kami sudah berjalan hampir tiga jam. Sang gunung masih malu-malu menampakkan dirinya.

Jalur setapak berbatu menuju Gunung Bromo

Melangkah bersama menuju tujuan - persahabatan yang menguatkan
Halusinasi Lapar
Di saat seperti itu, halusinasi mulai bermunculan. Kami menghayal yang aneh-aneh: ada teman yang sudah menunggu di Bromo, presiden yang akan menyambut kami, bahkan Alfamart yang berdiri di puncak Bromo! Ditambah lagi perut kami mulai keroncongan.
Pertolongan dari Jamaah yang Baik Hati
Di tengah jeritan perut yang meminta makanan, di kejauhan tampak rombongan jamaah yang semuanya mengenakan gamis, berjengot panjang, dan sepertinya membawa makanan.
Kami memutuskan mendekati mereka dengan alasan ingin shalat Ashar berjamaah—padahal niat sebenarnya biar ditawari makan. Dengan sedikit-sedikit berbahasa Arab, kami shalat berjamaah bersama mereka, dan alhamdulillah, niat kami untuk mendapat makanan juga terkabul!
Pelangi di Daratan
Saat kami sedang asyik makan bersama para jamaah, kami disajikan kebesaran Tuhan lainnya: pelangi. Tapi pelangi ini istimewa—bukan di langit, melainkan di daratan! Subhanallah, sangat indah sekali.

Anugerah di tengah kesusahan - pelangi yang muncul di daratan, bukan di langit
Perjalanan Dilanjutkan dengan Tantangan Baru
Waktu terus berjalan. Setelah menghabiskan makanan, para jamaah pamit untuk kembali ke Malang. Sebelum berpisah, mereka membekali kami sebuah sleeping bag, katanya untuk melindungi dari hujan karena langit memang tampak semakin mendung.
Kami melanjutkan perjalanan dengan langit yang kian kelabu, jalan yang berkabut, dan petir yang menyambar. Walau sempat ragu, kami tetap melanjutkan dengan bismillah.
Tak lama kemudian, hujan turun seperti yang diperkirakan. Kami segera membentangkan sleeping bag di atas kepala. Jadilah kami berjalan seperti barongsai!
Akhirnya... Gunung Bromo!
Kami terus berjalan meski jalan di depan tak terlihat karena tertutup kabut tebal. Hati kami sebenarnya gamang—tidak tahu di mana letak Gunung Bromo sebenarnya.
Hingga kami sampai pada satu titik untuk beristirahat. Hujan sudah berhenti. Di titik itu terdapat gunung di hadapan kami. Saat itu saya melihatnya seperti gunung dalam lukisan kartun, jadi saya menyebutnya "Gunung Kartun".
Saat beristirahat, kami bertemu dengan bapak-bapak pengendara kuda. Kami pun bertanya, "Pak, arah Gunung Bromo ke mana ya?"
Sang bapak dengan santai menjawab sambil menunjuk, "Itu Gunung Bromonya."
Ketika kami melihat ke arah yang ditunjuk, ternyata gunung yang saya sebut "Gunung Kartun" tadi adalah Gunung Bromonya! Merasa konyol, kami tertawa bersama. Alhamdulillah, ternyata kami sudah sampai!

Diantara keindahan - hamparan pasir Bromo dengan latar gunung yang megah
Bermalam di Villa
Karena hari sudah maghrib, kami tidak langsung naik ke puncak Bromo. Kami memutuskan menyewa villa seharga Rp150.000 untuk bermalam. Besok pagi jam 3 baru kami akan naik ke puncak.
Villa yang kami tempati ternyata luas—dua lantai dengan tiga kamar, dua kamar mandi, dan bonus TV untuk menonton Piala Dunia yang kebetulan sedang berlangsung. Lokasinya pun tidak jauh dari Gunung Bromo, hanya sekitar 2 km, di tengah perkampungan.

Bermalam di villa - mengisi waktu dengan ngobrol dan bermain kartu
Fenomena "Mistis"
Di villa ini, kami sempat mengalami fenomena "mistis". Saat sedang asyik mengobrol, tiba-tiba terdengar suara nyinden dengan bahasa Jawa yang tidak kami mengerti. Kami terdiam sejenak.
Setelah otak mulai bisa berpikir jernih, kami menyimpulkan bahwa orang di rumah sebelah sedang membaca kitab Weda—karena memang masyarakat sekitar Bromo dan Semeru mayoritas beragama Hindu. Masyarakat ini disebut Suku Tengger.
Selesai "fenomena mistis" tadi, kami memutuskan untuk beristirahat agar bisa bangun pagi keesokan harinya.
Puncak Bromo: Menyaksikan Keajaiban Fajar
Tepat pukul 03.00 pagi, kami berangkat menuju puncak Bromo. Keadaan masih gelap gulita, hanya bintang gemintang yang bertaburan di langit berbaik hati menyinari langkah kami, ditambah cahaya senter HP.
Kami berjalan di hamparan pasir Bromo dengan sedikit gemetar karena udara sangat dingin. Meski sudah mengenakan jaket lengkap, tetap tidak cukup menghangatkan tubuh.
Pasir Berbisik dan Kram di Jemari
Kami terus melangkah di atas pasir-pasir Bromo yang halus dan "berbisik". Sesekali Tebo merasakan kram di jemarinya karena udara dingin, sehingga kami terpaksa beristirahat sebentar.
Setelah satu setengah jam berjalan, kami menemui tangga. Inilah tangga yang akan mengantarkan kami menuju puncak Bromo. Selama setengah jam kami menapaki anak tangga itu, hingga akhirnya...
Kami sampai di puncak Bromo, tepat waktu Shubuh!

Menapaki 250 anak tangga menuju puncak Gunung Bromo di tengah malam
Adzan di Puncak
Saya mengumandangkan adzan, lalu kami bertayamum dan shalat berjamaah di puncak Bromo. Sembari menanti matahari pagi bersinar lembut di ufuk timur.
Dan ketika matahari mulai muncul, pemandangan yang tersaji adalah sesuatu yang tidak akan pernah kami lupakan. Lautan awan terbentang di hadapan, sinar keemasan matahari menembus kabut pagi, dan kebesaran Tuhan terasa begitu nyata di depan mata.

Kebesaran Tuhan - sunrise yang dramatis di puncak Bromo

Lautan awan di atas kayangan - pemandangan yang menakjubkan
Kebebasan matahari terbit - siluet di hadapan sang surya yang perkasa

Menantang matahari - dua sahabat menyaksikan keajaiban fajar

Momen hening di puncak - merenungi kebesaran Sang Pencipta

Mengisi perut sebelum turun - sarapan sederhana dengan pemandangan luar biasa
Epilog: Jalan yang Lurus
"Tidak ada yang pernah pergi dari hati, tidak ada yang pernah hilang dari sebuah kenangan. Tetaplah menapaki jalan yang lurus, kawan."
Perjalanan ini mengajarkan saya banyak hal: tentang persahabatan, tentang kesabaran, tentang kebesaran Sang Pencipta, dan tentang keindahan proses yang harus dilalui untuk mencapai tujuan.
Setiap langkah di jalan yang lurus itu, meski penuh tantangan, selalu ada hikmah yang tersimpan di dalamnya. Dari tidur di stasiun dengan kakek yang "tidak waras", mendorong angkot di tanjakan, berjalan berjam-jam menembus savana, bertemu jamaah baik hati yang memberi makan, hingga menyaksikan sunrise yang memukau di puncak Bromo.
Perjalanan mengantarkan kita pada kesejatian. Kesejatian bahwa hidup adalah tentang prosesnya, bukan hanya tujuannya. Kesejatian bahwa persahabatan adalah anugerah terindah di tengah kesusahan. Dan kesejatian bahwa kebesaran Tuhan hadir di setiap sudut perjalanan kita.
Teruslah menapaki jalan yang lurus, kawan. Di ujung jalan itu, selalu ada pemandangan indah yang menanti.
Ditulis pada: Kamis, 06 Nopember 2025
💬 Comments (0)
Leave a Comment
💭 No comments yet. Be the first to share your thoughts!