"Lagu ini bukan hanya laguku. Ini adalah lagu gunung. Lagu sungai. Lagu kabut pagi dan embun yang menetes dari daun."
Aku terbang tinggi.
Lebih tinggi dari kemarin. Lebih tinggi dari minggu lalu. Sayapku mengepak menembus udara yang kini terasa asing—terlalu panas, terlalu kering, terlalu sunyi.
Berhari-hari sudah aku terbang tinggi, mencari-cari gunung yang aku sebut dengan rumah. Aku nyanyikan lagu yang ibu ajarkan saat aku masih kecil, saat buluku masih kusam dan kakiku belum cukup kuat untuk mencengkeram dahan.
Cuit-cuit-citt, cuit-cuit
Kunyanyikan berkali-kali. Berharap ada yang menjawab. Berharap gunung itu mengenalku.
Tapi tidak ada jawaban…

✻
Di ketinggian, pikiranku memutar-mutar kembali memori masa lalu, saat aku belajar terbang pertama kali. Di antara kabut yang menyelimuti seluruh gunung setiap pagi, ibuku membawaku ke dahan tertinggi pohon beringin tua. Dari sana terlihat dengan jelas pemandangan seluruh gunung. Matahari yang masih malu-malu menampakkan dirinya, kabut yang lembut, dedaunan yang berkilau karena tetes embun yang memantulkan kembali dengan sempurna cahaya matahari.
"Terbang," kata ibu. "Dan ingat jalan pulangmu."
Aku terbang. Jatuh. Terbang lagi. Sayapku basah oleh kabut, tapi aku tidak takut. Di bawah sana ada sungai yang jernih. Airnya bernyanyi, mengalir di antara batu-batu berlumut. Jika aku jatuh, sungai akan menangkapku dengan lembut.
Dan sekarang, di angkasa, mataku masih mencari-cari, melihat ke kanan dan ke kiri. Di mana kabut itu? Di mana beringin itu? Di mana sungai itu?
Namun nihil. Sekeras apapun aku mencoba mencari, sepanjang mata memandang hanya ada langit kosong dan tanah yang terluka.
Tidak ada gunung berkabut.
Tidak ada sungai jernih.
Yang ada hanya tanah cokelat, terbuka lebar seperti luka yang tak pernah sembuh. Di sana-sini, tunggul pohon berdiri seperti nisan. Beberapa masih segar, getahnya menetes seperti darah yang belum beku.
Aku coba turun lebih rendah, berharap beringin tua itu menampakkan diri. Paling tidak aku bisa melihat dahan tempat pertama kali aku belajar terbang.
Namun tetap tidak ada.
Yang kutemukan hanya pepohonan sawit dan jalanan lebar mulus, membelah gunung seperti parutan. Di sepanjang jalan itu ada papan-papan besar bertuliskan kata-kata yang tidak ku mengerti. Pembangunan. Kemajuan. Masa Depan. Aku tidak tahu apa artinya "masa depan." Yang kutahu, masa laluku telah hilang.
✻
Lelah karena tak kunjung menemukan beringin tua, kualihkan terbangku menuju tempat di mana dulu sungai itu mengalir.
Lagi-lagi rasa kecewa yang aku dapat.
Sungai itu pun tidak ada. Hanya ada lembah kering. Batu-batunya masih melekat, tapi tidak ada lagi lumut hijau. Tidak ada lagi nyanyian air. Yang tersisa hanya keheningan dan sedikit genangan cokelat yang berbau tanah.
Di atas sini langit begitu biru. Terlalu biru. Hingga awan-awan yang dulu sering lewat untuk menurunkan hujan setiap sore, kini enggan untuk kembali datang.
Atau mungkin mereka datang, tapi tidak menangis di sini.
Ibu pernah bilang, "Awan menangis untuk gunung, dan gunung menyimpan air tangis itu untuk kita semua."
Tapi sekarang tidak ada lagi pohon untuk menahan tangis awan. Ketika mereka akhirnya menangis, air itu langsung lari. Terlalu cepat. Terlalu deras. Membawa serta tanah, batu, dan semua yang tersisa.
Aku pernah mendengar suara gemuruh dari kejauhan. Suara air yang marah. Suara tanah yang roboh. Suara manusia yang berteriak.
Tapi suaraku terlalu kecil untuk didengar di tengah itu semua.
✻
Sayapku sudah mulai terasa berat. Kuputuskan untuk hinggap di sebatang kayu mati.
Tenggorokanku kering, suara pun hampir tak keluar. Tapi kupaksakan untuk tetap bernyanyi.
Cuit-cuit-ciit, cuit-cuit
Lagu yang ibu ajarkan. Lagu yang seharusnya membawaku pulang.
Tapi pulang ke mana?
Di kejauhan, aku melihat beberapa burung lain. Mereka terbang rendah, bingung mencari tempat hinggap. Ada yang mencoba bersarang di tiang listrik. Ada yang masuk ke pemukiman manusia, mencari sisa makanan.
Mereka tidak lagi bernyanyi.
Aku ingin berteriak pada mereka. "Jangan lupa lagumu! Jangan biarkan lagu itu hilang!"
Tapi tenggorokanku terlalu kering untuk berteriak.
✻
Tiba-tiba terdengar percakapan beberapa manusia tak jauh dari batang kayu mati, tempat aku hinggap. Terlihat mereka membawa gergaji-gergaji mesin yang besar, tanda bahwa mereka adalah pekerja yang diupah untuk menebang pohon di tempat ini.
"Ya bagaimana lagi, ini sudah pekerjaan kita. Lagipula ini juga untuk kemakmuran dan kehidupan yang lebih baik."
Lamat-lamat aku mendengar salah satu dari mereka bicara.
Dari percakapan mereka aku sekarang tahu.
Semua ini dilakukan atas nama kemanusiaan.
Tadi apa katanya, untuk kehidupan yang lebih baik?
Kehidupan siapa yang dimaksud?
Yang jelas pasti bukan kehidupanku, kehidupan pohon-pohon tua yang sudah berdiri ratusan tahun, bukan kehidupan sungai yang dulu mengalir penuh nyanyian.
Mungkin kehidupan itu untuk mereka. Mungkin mereka memang butuh kayu, butuh tanah, butuh jalan.
Tapi kenapa tidak ada yang bertanya padaku? Kenapa tidak ada yang bertanya pada gunung?
Kami juga hidup di sini.
✻
Sayapku mulai gemetar.
Aku mencoba terbang lagi, tapi tubuhku terlalu lelah. Aku hanya bisa hinggap di tanah—tanah yang dulu hijau, sekarang kering dan keras.
Aku bernyanyi sekali lagi. Pelan. Hampir berbisik.
Cuit-cuit-ciit…
Aku hanya ingin pulang.
Aku hanya ingin bernyanyi ketika matahari terbit di pagi hari, di gunung yang masih berkabut.
Tapi gunung itu sudah berubah jadi padang tandus.
Aku tidak tahu apa yang terjadi. Yang kutahu, semua pohon telah ditebang. Sungai telah kering. Dan awan menolak menangis karena tidak ada lagi yang menampung mereka.
✻
Tubuhku terkulai.
Aku tidak bisa lagi mengepakkan sayap. Mataku mulai buram. Tapi aku terus bernyanyi, semakin pelan, semakin lemah.
Lalu aku mendengar langkah kaki.
Seseorang berhenti di dekatku. Seorang manusia. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, tapi aku merasakan dia berjongkok, mendekat.
Dia diam. Hanya mendengar.
Mendengar nyanyianku yang hampir hilang.
Aku tidak tahu apakah dia mengerti. Aku tidak tahu apakah dia peduli.
Tapi di matanya, aku melihat sesuatu—mungkin penyesalan, mungkin kesedihan, mungkin pemahaman yang datang terlambat.
Dan dalam hatiku yang hampir padam, aku berbisik: Andai saja kau bisa. Andai saja kau mau. Andai saja kau membuat mereka semua peduli akan panggilanku.
✻
Nyanyianku berhenti.
Tapi entah kenapa, aku berharap suaraku masih terdengar. Entah di mana. Entah oleh siapa.
Karena lagu ini bukan hanya laguku.
Ini adalah lagu gunung. Lagu sungai. Lagu kabut pagi dan embun yang menetes dari daun.
Ini adalah lagu untuk rumah yang telah hilang.
Dan jika tidak ada yang menyanyikannya lagi, siapa yang akan ingat bahwa rumah itu pernah ada?
✻
Di kejauhan, awan mulai berkumpul. Gelap. Berat.
Mereka akan menangis malam ini.
Tapi tidak ada lagi pohon untuk menahan tangis mereka.
Air akan lari. Tanah akan hanyut. Dan manusia akan bertanya-tanya, kenapa bumi ini begitu marah.
Tapi tidak ada yang akan mendengar jawabnya.
Karena yang bisa menjawab—kami, burung-burung kecil dengan nyanyian sederhana—suara kami sudah terlalu lemah untuk didengar.
Atau mungkin mereka memang tidak pernah mau mendengar.
✻
Cuit…
………
Hening.
Catatan Penulis:
Cerita ini terinspirasi dari lagu "Bird Song" oleh Letto dari album Lethologica (2009). Lagu tersebut mengisahkan seekor burung yang kehilangan rumahnya—sebuah metafora yang powerful tentang kehilangan habitat akibat deforestasi. Saya mencoba mengembangkan perspektif sang burung dan menerjemahkan melodi melankolisnya ke dalam kata-kata.
Kepada Letto: terima kasih untuk lagu yang mengajarkan kita mendengar suara yang sering diabaikan.
💬 Comments (0)
Leave a Comment
💭 No comments yet. Be the first to share your thoughts!