"Masa muda memang selalu indah"


Lelucon yang Berubah Jadi Petualangan

Perjalanan ini bermula dari sebuah candaan spontan. Kami berenam belas orang—saya, Kamal, Murdiono, Holiz, Wildan, Farid, Hadi, Ridhwan, Bayu, Beny, Alfian, Zuhdi, dan Arif—awalnya hanya berencana berkumpul santai di kontrakan saya di Kebonsari, Surabaya. Namun takdir berkata lain ketika kami singgah mengisi bensin di SPBU Arif Rahman Hakim.

"Tang, siap ta ke Madakaripura?" Holiz melontarkan pertanyaan sambil lalu.

Bontang—panggilan akrab untuk Bayu—langsung menatap tidak percaya. "Loh, beneran ini?"

"Iya tang," saya ikut menyahut.

"Tapi oli ku mau habis nih," ujar Bontang sambil memeriksa oli motornya, masih setengah ragu.

"Lu tanya aje kapten nanti," Murdiono ikut ambil bagian.

"Kalo gitu gw ngisi oli dulu deh."

Dengan lugunya, Bontang percaya begitu saja dan bergegas mengisi oli. Kami bertiga—saya, Holiz, dan Murdiono—tertawa lepas melihat keluguan sahabat kami itu. Tapi tawa kami kemudian berubah menjadi tekad: mengapa tidak benar-benar pergi?

Gathering at Beji's house before adventure
Berkumpul di rumah Beji sebelum memulai petualangan

Berkumpul di rumah Beji sebelum memulai petualangan


Keputusan di Tengah Malam

Setelah diskusi panjang, kami sepakat melanjutkan perjalanan. Sayangnya Arif tidak bisa ikut karena ada rapat penting. Jadilah kami berenam belas berkurang menjadi lima belas orang dengan tujuh motor. Rencana transit di rumah Zuhdi—yang biasa dipanggil Beji—di Kabupaten Pasuruan pun disepakati.

Sekitar pukul 23.30 malam, perjalanan dimulai. Angin malam menghajar kulit kami, tapi semangat tidak pudar sedikitpun. Setelah satu setengah jam berkendara melawan kantuk dan dinginnya malam, kami tiba di rumah Beji pada pukul 01.00 dini hari.


Kehangatan Desa di Tengah Malam

Rumah Beji menyambut kami dengan kehangatan khas pedesaan. Makanan lezat tersaji di meja, dan perut kami yang keroncongan langsung menyantapnya dengan lahap—meski saya sendiri lebih memilih menikmati suasana desa yang begitu menenangkan.

Yang paling mengesankan buat saya adalah pemandangan desanya: rumah-rumah tanpa pagar, sawah yang masih membentang luas, dan yang paling istimewa—langit malam yang bersih bertabur bintang. Pemandangan yang jarang saya lihat di tengah hiruk-pikuk kota Surabaya.

Pukul 02.00 dini hari, kami memutuskan beristirahat. Tempat tidur terbagi di ruang tamu dan dua kamar. Saya memilih tidur di ruang tamu, mengumpulkan energi untuk petualangan yang menanti esok hari.


Pagi yang Cerah dan Penuh Semangat

Pukul 05.00 saya sudah terbangun. Setelah berwudhu dan shalat Subuh, saya duduk di teras menikmati pagi. Meskipun masih jam lima, matahari sudah cukup tinggi—tanda khas cuaca di daerah Pasuruan.

Beji ternyata sudah bangun lebih dulu. Dengan iseng, dia memotret pose tidur teman-teman sambil membangunkan mereka satu per satu. Ada-ada saja tingkah Beji ini.

Sekitar jam enam pagi, kami semua sudah siap berangkat menuju Madakaripura. Perjalanan tidak sepenuhnya mulus—motor Alfian dan Benny hampir terperosok ke jurang saat menuruni jalan curam yang berpasir. Beruntung mereka masih bisa menjaga keseimbangan. Fyuh, hampir saja!

Gajah Mada standing statue with kris pointing east
Patung Gajah Mada dengan keris legendaris menunjuk ke timur

Patung Gajah Mada dengan keris legendaris menunjuk ke timur


Gerbang Madakaripura: Pertemuan dengan Sang Mahapatih

Patung Gajah Mada berdiri megah menyambut kedatangan kami. Kerisnya menunjuk ke arah timur dengan gagah. Suasana masih sangat sepi, bahkan loket penjagaan belum dibuka. Seseorang yang tampak seperti penjaga menghampiri kami untuk memungut biaya masuk.

Tarifnya cukup terjangkau: Rp 3.000 per orang dan Rp 3.000 per motor. Total untuk tiga belas orang dan tujuh motor, kami membayar Rp 60.000. Setelah transaksi selesai, kami langsung berfoto di depan patung Gajah Mada yang sedang bertapa.

Bontang with meditating Gajah Mada statue
Bontang berpose dengan patung Gajah Mada yang bertapa

Bontang berpose dengan patung Gajah Mada yang bertapa

Selesai berfoto, kami sarapan di warung-warung yang tidak jauh dari area parkir. Saat kami makan, beberapa anak lokal secara sukarela mencuci motor-motor kami. "Lumayan, udah lama gak dicuci tuh motor," batin saya dalam hati.

Sedikit Info: Madakaripura terletak di kawasan wisata alam Bromo-Tengger-Semeru, tepatnya di Desa Sapih, Kecamatan Lumbang, Probolinggo, Jawa Timur. Nama "Madakaripura" berarti "tempat tinggal terakhir"—dipercaya sebagai tempat Mahapatih Gajah Mada dari Kerajaan Majapahit menghabiskan hari-hari terakhirnya dalam pertapaan hingga ajal menjemput.


Melawan Arus: Perjalanan yang Tak Biasa

Dari area parkir, kami harus menempuh sekitar 800 meter berjalan kaki menuju air terjun. Perjalanan dimulai dari jalan setapak yang memotong sungai. Kami sempat berhenti sejenak untuk berfoto.

Starting trek crossing river path
Memulai perjalanan dari jalan setapak yang memotong sungai

Memulai perjalanan dari jalan setapak yang memotong sungai

Teman-teman yang lain memilih mengikuti jalan setapak yang aman. Saya? Saya memilih jalur berbeda—menyusuri sungai dan melawan arusnya langsung. Jadilah pakaian saya basah kuyup dari awal.

Swimming against strong river current
Perjuangan melawan arus sungai yang deras

Perjuangan melawan arus sungai yang deras

Beberapa kali saya terjatuh karena derasnya arus dan licinya bebatuan yang saya pijak. Jatuh bangun berkali-kali, tapi justru itu yang membuat perjalanan terasa lebih menantang dan berkesan.

Setelah satu jam berjalan dengan susah payah, akhirnya saya tiba di air terjun pertama. Madakaripura memiliki lima tingkat air terjun, dan ini adalah yang pertama. Di bawahnya ada batu besar yang cukup untuk saya duduk. Saya melepas baju dan bergaya ala pertapa di atas batu itu.

Tips: Bagi yang tidak ingin barang bawaan basah, tersedia tempat penitipan barang di area ini. Teman-teman saya menitipkan tas mereka, tapi saya lebih memilih membawa tas sambil berharap tidak terlalu basah.


Lima Tingkat Air Terjun Madakaripura

Setelah puas berfoto di air terjun pertama, saya bersama Kamal (biasa dipanggil Imung atau Kapten) dan Farid melanjutkan perjalanan. Sekitar 5 meter dari air terjun pertama, terdapat air terjun kedua dengan aliran yang jauh lebih deras.

Untuk mencapainya, kami harus menapaki jalan berbatu yang sedikit menanjak. Sesampai di sana, saya mencoba duduk di bawah air terjun. Ternyata rasanya sakit! Seperti dilempari kerikil-kerikil kecil secara terus-menerus.

Dari posisi ini, saya memandang lurus ke depan dan terpana. Terlihat ceruk besar dengan tiga air terjun di sisinya dan sebuah danau berwarna biru kehijauan. Pemandangan yang benar-benar spektakuler!

Main Madakaripura waterfall majestic view
Keindahan air terjun utama Madakaripura yang memukau

Keindahan air terjun utama Madakaripura yang memukau

Kami bertiga langsung turun dan menunggu teman-teman lain untuk segera melihat pemandangan indah ini bersama-sama.


Setelah berjalan sekitar 30 meter dari air terjun kedua, kami sampai di ceruk besar—tempat yang dipercaya sebagai lokasi Patih Gajah Mada bersemedi. Ada dua jalur untuk mencapainya:

Jalur Pertama: Jalan licin yang hanya cukup untuk satu orang.

Jalur Kedua: Muara air terjun yang membentuk kolam di dalamnya.

Kami semua memilih jalur kedua untuk sedikit bermain air. Di sana terdapat gelondongan kayu besar yang bisa dipakai sebagai pelampung—sangat berguna karena ternyata kolam ini memiliki bagian dalam di pinggirnya.


Tantangan Kolam 7 Meter

Sesampainya di ceruk utama, kami takjub. Pemandangan yang tersaji adalah tebing yang melingkar setengah lingkaran mengelilingi kami, dengan tiga air terjun yang jatuh indah di sisinya. Di antara ketiga air terjun tersebut, ada satu air terjun utama yang paling besar.

Madakaripura waterfall deep pool
Kolam sedalam 7 meter dengan latar air terjun Madakaripura yang megah

Kolam sedalam 7 meter dengan latar air terjun Madakaripura yang megah

Di balik air terjun utama itu, terdapat sedikit ruang untuk berpijak—konon di sinilah Gajah Mada bersemedi. Tapi untuk mencapainya? Tidak mudah. Kami harus menyeberangi kolam sedalam 7 meter dengan lebar 5 meter.

Awalnya tidak ada yang berani. Kami semua masih mengumpulkan keberanian. Hingga Danar—yang memang dikenal jago berenang—memberanikan diri duluan. Dengan kayuhan tangan dan kaki yang mantap, dia mulai berenang. Kami di tepi kolam menunggu dengan cemas.

Beberapa saat kemudian, Danar berhasil mencapai ruang di balik air terjun! Tepuk tangan pun bersahutan dari kami semua.

Group photo at waterfall edge
Berfoto bersama di tepi kolam 7 meter sebelum menyeberang

Berfoto bersama di tepi kolam 7 meter sebelum menyeberang


Celah di Tebing: Jalan Alternatif Saya

Keberhasilan Danar menginspirasi yang lain untuk menyeberang. Tapi saya? Saya tidak pandai berenang. Jadi saya mencari jalan alternatif.

Saat itu saya melihat ada celah di dinding tebing yang terhubung dengan ruang di balik air terjun. Saya mendekat dan memeriksa apakah celah itu bisa dilewati. Setelah diperiksa, celah tersebut cukup lebar untuk saya berjalan merangkak di dalamnya.

Tapi saya masih ragu. Ketinggian celah cukup tinggi dari tempat saya berdiri, ditambah dinding tebing yang licin dan tajam. Yang paling membuat ragu: sandal saya sudah aus dan tidak cocok untuk memanjat. Jadilah untuk sementara saya urungkan niat.

Sementara itu, teman-teman lain mulai menyeberang satu per satu. Secara berurutan: Imung dengan gaya punggungnya, Benny yang hampir tenggelam di tengah jalan tapi diselamatkan Danar, dan Beji yang menyeberang dengan bantuan gelondongan kayu plus Danar.

Keinginan untuk sampai ke seberang semakin membuncah. Akhirnya saya memutuskan meminjam sandal yang lebih baik. Setelah mencoba meminjam ke Farid yang memakai sandal merk Outdoor tapi gagal, akhirnya Hadi mempersilahkan saya memakai sandal gunung merk Eiger miliknya.

Group enjoying sacred pool Madakaripura
Momen kebersamaan di kolam air terjun Madakaripura

Momen kebersamaan di kolam air terjun Madakaripura


Merangkak di Celah Tebing

Tak membuang waktu, setelah memakai sandal pinjaman, saya langsung menuju celah tebing untuk memulai percobaan. Masih ada sedikit keraguan ketika akan memanjat. Teriakan Dion menambah keraguan itu: "Ko, jangan ko!!!"

Tapi keinginan mengalahkan keraguan. Dengan bismillah, saya mulai memanjat dengan penuh keyakinan—dan berhasil masuk ke celah tersebut!

Tantangan berikutnya: berjalan merangkak sekitar 5 meter dengan medan yang sedikit menurun dan penuh batu-batu kecil yang tajam. Dengan sedikit bersusah payah, saya berhasil mencapai ujung celah. Dengan dua lompatan kecil, akhirnya saya sampai di ruang yang dituju!

Behind Madakaripura waterfall meditation cave
Akhirnya sampai! Di ruang semedi Gajah Mada, di balik air terjun

Akhirnya sampai! Di ruang semedi Gajah Mada, di balik air terjun

Kedatangan saya disambut dengan tepuk tangan riuh dari teman-teman yang sudah sampai lebih dulu: Beji, Imung, Danar, Benny, dan Bontang.

"Cupu! Cupu! Cupu!" kami berteriak bersama-sama kepada teman-teman yang masih di seberang. Provokasi kami berhasil menarik keberanian mereka.


Kisah Lucu Murdiono Bentuk C

Satu per satu, teman-teman yang belum menyeberang mulai memberanikan diri dengan bantuan gelondongan kayu dan Danar. Hadi, Gibal (Ridhwan), Alfian, dan Murdiono menyusul secara berurutan.

Ada cerita lucu tentang Murdiono. Dia tidak pandai berenang, jadi harus memakai gelondongan kayu dengan Danar di sampingnya. Tapi alih-alih mengayunkan kaki untuk membantu, dia malah memeluk kayunya erat-erat sampai badannya membentuk huruf C!

Kontan saja kayu itu berputar dan nyaris menenggelamkan Murdiono. Untung Danar dengan susah payah dan wajah yang sudah memerah berhasil membawa Dion menyeberang dengan selamat. Kami semua tertawa melihat kejadian konyol itu.

Sekarang kami semua—kecuali Farid, Wildan, dan Holiz—sudah berada di ruang sempit itu. Kami menyuruh mereka yang di seberang untuk memfoto kami. Di sini kami juga menari-nari ala Bob Marley sambil menyanyikan lagu "No Woman No Cry". Tawa kami bergema di antara dinding-dinding tebing.


Perjalanan Kembali yang Lebih Menantang

Kami tidak lama di ruang itu. Hanya beberapa menit setelah saya sampai, kami memutuskan kembali. Sama seperti saat berangkat, saya juga melewati celah di tebing untuk pulang.

Ternyata perjalanan kembali jauh lebih sulit! Saya harus merangkak dengan medan yang berkebalikan—sedikit menanjak dan penuh batu tajam. Yang paling menyusahkan adalah saat turun dari celah. Medannya licin, tajam, dan saya tidak bisa melihat ke bawah untuk mencari pijakan.

Dalam perjalanan turun, saya tergelincir! "Mati gw," batin saya, mengira di bawah adalah air dalam.

Tapi untungnya salah! Ternyata di bawah adalah air dangkal. Selamat! Meskipun tulang kering dan tangan saya sedikit terluka karena tergelincir, tapi yang penting nyawa masih utuh.

Teman-teman yang lain kembali dengan berenang melalui rute yang lebih pendek. Berbeda dengan mereka, Dion memilih mengikuti jejak saya melewati celah di tebing. Dengan sedikit bantuan saya dalam memandu turun, Dion juga berhasil sampai dengan selamat.


Ngopi di Kaki Air Terjun

Setelah semua sampai kembali, kami menghampiri Farid, Wildan, dan Holiz untuk membuat kopi. Kebetulan kami membawa kompor kecil yang biasa dibawa pendaki, gas kecil, gelas, dan nesting. Jadi kami bisa membuat beberapa gelas kopi hangat.

Sambil mengeringkan badan dan menikmati kehangatan kopi, kami bercengkrama dan tertawa mengingat kembali setiap momen petualangan hari ini. Dari yang hampir celaka sampai yang lucu-lucu.

Sekitar pukul 11.30, setelah mengemas barang bawaan, kami bergegas pulang. Kembali ke Surabaya, kembali ke rutinitas, kembali bergelut dengan buku di kota pahlawan. Tapi kenangan indah tentang perjalanan ke pertapaan Sang Mahapatih akan selalu tersimpan.


Catatan Penutup: Drama di Jalan Pulang

Ada cerita tambahan di perjalanan pulang. Farid dan Beji hampir kehilangan nyawa saat motor mereka terjatuh karena roda nyelip di rel kereta.

Yang lucunya, ketika mereka jatuh, Beji sempat bertanya dengan tenang: "Kamu ngantuk, Rid?"

"Nggak le," jawab Farid, juga dengan tenang.

Padahal saat itu sebuah truk sudah di depan mata, siap melindas mereka! Untung saja sang supir truk berhasil mengerem tepat waktu sebelum mereka jadi "tempe penyet".


Sebuah perjalanan mengenang sejarah kejayaan Nusantara yang tak akan terlupakan. Masa muda memang selalu indah!