Si Mbambung: Bencana Bukan Alam
"Air tidak pernah berbohong. Air selalu jujur pada hukumnya. Harusnya manusia juga begitu."
Hujan deras tak berhenti beberapa hari terakhir ini di Desa Kaligawe membuat desa diterjang banjir besar. Akibatnya akses keluar masuk desa terputus, menyebabkan desa menjadi terisolir. Listrik padam sejak hari pertama. Sinyal telepon hilang. Tak ada alat komunikasi apapun yang bisa dipakai untuk meminta bantuan.
Banyak warga yang terdampak disebabkan banjir ini, termasuk Mbambung salah satunya.

Mbambung dan Gudel bertahan di atas genteng rumah yang terendam banjir
Rumahnya yang berada di pinggiran desa kini terendam campuran air dan tanah setinggi bahu orang dewasa. Mbambung duduk di genteng rumahnya, termenung menatap kosong pada air coklat keruh yang merendam desanya. Di sebelahnya, Gudel—tetangga sekaligus teman susahnya—juga bertengger di genteng dengan wajah lesu.
Air yang memenuhi Desa Kaligawe seperti aliran sungai, mengalir dengan deras. Sesekali terlihat barang-barang hanyut: ember plastik, sendal jepit, bahkan kandang ayam yang masih utuh tapi kosong. Yang paling mengejutkan adalah gelondongan-gelondongan kayu besar yang terus berdatangan, bergerak mengikuti arus seperti armada hantu.
"Dari mana semua kayu ini, Mbung?" tanya Gudel, matanya mengikuti sebuah batang kayu sebesar tiang listrik yang hanyut melewati mereka.
"Dari hulu," jawab Mbambung singkat. "Dari hutan yang sudah tidak ada lagi."
Dari kejauhan terdengar suara mesin perahu karet milik pemerintah desa.
"Pak Carik lewat lagi," gumam Mbambung, matanya mengikuti perahu karet oranye yang melaju di antara rumah-rumah. "Kelima kalinya hari ini. Tapi rumah kita bahkan belum sempat didatangi sekali."
Gudel mengangguk pahit. Tangannya meremas-remas sarung lusuh yang membalut tubuhnya. "Lihat tadi mereka singgah di rumah Pak Kamituwo. Padahal rumahnya di tanah tinggi, bahkan tidak kebanjiran. Tapi dapat tiga kardus mie instan dan selimut."
Mbambung tidak menjawab. Matanya menatap air yang menyelimuti desanya.
"Bencana alam memang kejam, Mbung," kata Gudel pelan, lebih pada dirinya sendiri. "Ujian dari Yang Maha Kuasa."
Mbambung menggeleng keras. "Jangan bilang bencana alam, Del. Itu ketidakadilan untuk alam. Zalim."
Gudel mengerit, menoleh pada temannya. "Maksudmu?"
"Air ini tidak bersalah. Ia hanya patuh pada hukum fisika yang Tuhan tetapkan." Mbambung mengulurkan tangannya, membiarkan air hujan membasahi telapaknya. "Kau lihat air ini? Ia cuma mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah. Ia cuma mengisi ruang kosong yang ada. Itu kodratnya. Seperti darah di tubuhmu yang mengalir lewat pembuluh. Kau menyalahkan darah kalau kau terluka?"
Gudel terdiam, mencerna kata-kata Mbambung.
"Bukan salah air kalau manusia menebang semua pohon di hulu sampai tanah tidak bisa lagi menampung air," lanjut Mbambung. Suaranya tenang, tapi ada kepahitan di sana. "Lima tahun lalu, aku masih bisa melihat hutan di sana." Ia menunjuk ke arah hulu yang kini tertutup kabut hujan. "Sekarang apa? Perkebunan sawit sampai lereng gunung. Tidak ada lagi akar-akar besar yang mengikat tanah. Tidak ada lagi kanopi daun yang memperlambat air hujan. Tanah sudah tidak bisa menyerap air—semua langsung mengalir ke sini, membawa semua kayu bekas tebangan itu."
"Tanah longsor juga begitu," Mbambung melanjutkan. "Tanah punya batas daya tampung, Del. Seperti gayung yang kau isi air. Ada titik di mana ia penuh, saturasi. Kalau sudah penuh air dan tidak ada akar pohon yang mengikatnya seperti jaring, ya longsor. Itu fisika, Del. Gravitasi. Bukan alam yang jahat."
"Lalu siapa yang jahat?" tanya Gudel, meski sudah tahu jawabannya.
"Yang jahat itu manusia yang serakah menebang pohon, mengeluarkan izin untuk perusahaan membabat hutan, lalu kalau banjir datang malah bilang 'bencana alam', 'ujian Tuhan', 'takdir'." Mbambung tersenyum pahit. "Seolah-olah alam yang salah. Seolah-olah Tuhan yang jahat mengirim hukuman. Seolah-olah air punya niat jahat menenggelamkan rumahku."
Gudel terdiam. Ia teringat tiga tahun lalu ketika ada rapat desa tentang izin pembukaan lahan sawit di wilayah hulu. Pak Lurah bilang itu akan membawa kemakmuran. Katanya ada dana desa yang akan mengalir. Beberapa warga yang protes malah dibilang menghambat pembangunan, tidak mendukung pemerintah.
"Dengar itu?" Mbambung menyentak Gudel dari lamunannya.
Di kejauhan, perahu karet sudah kembali mendekat. Di atasnya ada Pak Carik dengan rompi oranye bertuliskan "POSKO BENCANA", dan di sampingnya ada orang berseragam rapi dengan kamera—wartawan lokal yang entah bagaimana bisa masuk ke desa yang terisolir ini.
Perahu itu berhenti di depan genteng mereka.
"Mbambung, Gudel, kalian baik-baik saja?" tanya Pak Carik dengan suara keras, performatif. Kameranya sudah mengabadikan momen ini.
"Alhamdulillah masih hidup, Pak," jawab Mbambung datar. "Meski sudah tiga hari tidak dapat bantuan. Meski listrik mati. Meski sinyal hilang sehingga tidak bisa hubungi keluarga di luar."
Pak Carik mengangguk-angguk, lalu membuka map plastiknya. "Baik, saya catat dulu. Nanti bantuan akan didistribusikan secara merata." Ia menulis sesuatu. "Ini bencana alam yang luar biasa. Ujian dari Tuhan. Siklon tropis yang sangat dahsyat. Kita tidak bisa menyalahkan siapa-siapa."
Mbambung merasakan sesuatu mengeras di dadanya. "Bukan bencana alam, Pak."
Pak Carik menghentikan penanya. Wartawan mengarahkan kameranya. "Apa?"
"Air ini tidak bersalah, Pak Carik."
"Mbambung, ini bukan waktunya untuk—"
"Air hanya setia pada kodratnya." Mbambung memotong. Suaranya tetap tenang tapi tegas. "Mengalir dari tinggi ke rendah. Mengisi ruang kosong. Bapak pernah belajar fisika di sekolah? Air tidak memilih untuk menghancurkan rumah saya. Air tidak punya niat. Air hanya… ada. Dan mengikuti hukumnya."
Mbambung menunjuk gelondongan kayu yang masih terus berdatangan. "Dan kayu-kayu ini, Pak? Ini bukan kayu-kayu lapuk yang sudah lama. Ini kayu hasil tebangan. Bukti bahwa hutan di hulu sudah gundul. Tapi Bapak bilang ini 'ujian Tuhan'? Ujian untuk melihat seberapa bodoh rakyat bisa dibohongi?"
Pak Carik terlihat tidak nyaman. Wartawan masih merekam.
"Yang bencana itu bukan alamnya, Pak. Yang bencana itu keputusan membabat hutan di hulu. Keputusan mengeluarkan izin untuk perusahaan sawit yang sekarang entah di mana pemiliknya." Mbambung menatap tajam Pak Carik. "Keputusan yang dibuat di balai desa tiga tahun lalu. Bapak ingat?"
"Itu demi pembangunan—"
"Pembangunan apa, Pak? Sekarang rumah saya terendam. Sawah Pak Karjo hilang. Kandang ayam Bu Siti hanyut. Desa kita terisolir. Listrik mati. Tidak bisa hubungi siapa-siapa. Ini pembangunan atau penghancuran?"
"Dan kenapa pemerintah pusat tidak menetapkan ini sebagai bencana nasional?" Gudel tiba-tiba angkat bicara. "Ratusan orang meninggal di tiga provinsi. Ribuan desa terisolir. Tapi katanya 'penanganan sudah nasional'? Bantuan di mana, Pak? Kami sudah tiga hari kelaparan!"
Pak Carik mengepalkan tangannya. "Mbambung, Gudel, kalian tidak bisa bicara seperti ini. Kita semua korban—"
"Korban keputusan siapa, Pak?" Mbambung bangkit berdiri di atas genteng. "Dan soal bantuan yang Bapak bilang 'merata' tadi—kenapa perahu Bapak sudah lima kali lewat tapi baru sekarang mampir ke sini? Kenapa rumah Pak Kamituwo yang bahkan tidak kebanjiran sudah dapat tiga kardus? Kenapa rumah Pak Lurah di tanah tinggi malah sudah dikasih terpal dan genset?"
Wartawan menggeser kameranya, sekarang fokus pada Pak Carik yang wajahnya memerah.
"Itu… itu protokol… prioritas…"
"Prioritas keluarga dan kroni, maksud Bapak?"
"Kalian…!" Pak Carik menunjuk-nunjuk. "Kalian ini tidak tahu berterima kasih! Pemerintah desa sudah berusaha keras mengurus bantuan, eh malah difitnah!"
"Bukan fitnah kalau itu fakta, Pak," kata Mbambung tenang. "Dan soal 'ujian Tuhan' tadi, jangan jadikan Tuhan tameng untuk kesalahan manusia. Jangan bilang ini takdir. Lempeng bumi bergerak, itu takdir—karena itu kodrat geologi. Gunung meletus, itu takdir—karena magma harus keluar. Tapi hutan ditebang? Itu bukan takdir. Itu keputusan. Izin yang ditandatangani. Uang yang berpindah tangan."
Pak Carik membuka mulut, tapi tidak ada kata-kata keluar. Wartawan masih merekam. Akhirnya, dengan wajah merah padam, Pak Carik memerintahkan orang yang mengemudikan perahu untuk pergi.
Perahu karet itu melaju meninggalkan mereka.
Gudel menatap Mbambung dengan takjub campur khawatir. "Kau gila, Mbung. Mereka bisa membalas nanti."
Mbambung duduk kembali di genteng. "Mungkin. Tapi aku lelah, Del. Lelah dengan semua kebohongan ini. 'Bencana alam'. 'Ujian Tuhan'. 'Takdir'. 'Siklon yang dahsyat'. Semua itu cuma tameng untuk menutupi keserakahan dan ketidakmampuan mereka. Untuk menutupi fakta bahwa mereka mengeluarkan izin penebangan, dapat uang, lalu sekarang kita yang bayar dengan nyawa."
Ia menatap air di bawahnya lagi. "Kakekku dulu bilang: air tidak pernah berbohong. Air selalu jujur pada hukumnya. Harusnya manusia juga begitu."
Hujan masih turun. Air masih menggenangi Desa Kaligawe. Gelondongan kayu masih terus berdatangan—saksi bisu dari hutan yang sudah tidak ada. Tapi kali ini, setidaknya ada dua orang yang tahu bahwa ini bukan salah air. Dan sebuah kamera yang merekam kebenaran itu.
Di balai desa yang berada di dataran tinggi—masih kering, masih terang benderang dengan genset—Pak Lurah sedang menghitung kotak-kotak bantuan yang baru datang dari kabupaten, sambil berbisik dengan Pak Kamituwo tentang berapa persen yang bisa disisihkan untuk "operasional".
Mereka tidak tahu bahwa video Mbambung sudah mulai beredar di media sosial, dibawa keluar oleh wartawan itu dengan susah payah, dengan caption:
"Ini bukan bencana alam. Ini bencana keserakahan manusia. Ini bukan ujian Tuhan. Ini hasil izin yang ditandatangani."
Di bawahnya ratusan komentar mulai berdatangan. Seseorang membagikan data satelit yang menunjukkan hutan di hulu Kaligawe berkurang 80% dalam lima tahun terakhir. Yang lain membagikan SK Menteri Kehutanan tentang perubahan fungsi kawasan hutan.
Ada yang berkomentar: "Di tempat kami juga sama. Gubernur bilang ini karena cuaca ekstrem, padahal hutan sudah gundul semua."
Ada yang lain: "600+ orang meninggal di tiga provinsi, ribuan desa terisolir, tapi pemerintah pusat bilang 'penanganan sudah nasional' tanpa deklarasi bencana nasional. Kenapa takut sebut bencana nasional? Takut kelihatan lemah? Rakyat yang mati, bukan gengsi!!"
Kebenaran, seperti air, selalu menemukan jalannya ke tempat lebih rendah. Selalu mengisi ruang kosong. Tidak bisa dibendung selamanya.
Catatan Penulis:
Cerita ini terinspirasi dari banjir bandang yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat pada November 2025.
Air hanya patuh pada hukum fisika. Manusialah yang memilih.
💬 Comments (1)
Leave a Comment
Good day! Hope this message finds you well.
Hello, I'm writing to selected site administrators about grant opportunities. Your platform shows potential for growth. Open to discussion? Please contact me on WhatsApp +15793849930