Setiap kali pulang ke Blitar, mengunjungi pantai sudah menjadi ritual keluarga yang tak pernah kami lewatkan. Lebaran Maret 2026 pun tak terkecuali. Seperti perjalanan-perjalanan sebelumnya, kami tidak pernah merencanakan dari jauh hari pantai mana yang akan dituju β destinasi baru diputuskan di hari keberangkatan. Hari itu, setelah berunding sejenak, Pantai Lumbung terpilih sebagai tujuan pertama.
Menuju Pantai Lumbung
Pantai Lumbung secara administratif berada di Desa Pucanglaban, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Menurut Google Maps, jaraknya sekitar 39 km dari Kota Blitar dengan estimasi waktu tempuh 1 jam 11 menit. Namun, dari pengalaman kami sebelumnya, rute yang disarankan Google Maps kerap kali melewati jalan-jalan sempit dan terjal yang tidak ramah untuk mobil city car atau kendaraan keluarga. Maka, kami memilih strategi yang sudah teruji: berkendara terlebih dahulu menuju arah Pantai Tambakrejo yang rutenya sudah kami hafal, lalu berbelok ke Jalur Lintas Selatan (JLS).
Perjalanan dari rumah memakan waktu sekitar dua jam β memang lebih lama dibanding rute langsung yang disarankan Google Maps, tapi jauh lebih nyaman. Rute menuju Tambakrejo kondisinya cukup bagus, meski beberapa titik berlubang dan medannya naik-turun. Kami tidak sampai ke Pantai Tambakrejo-nya, melainkan berhenti di perempatan tempat JLS melintang, lalu berbelok ke kanan menuju arah Pantai Lumbung.
Jalur Lintas Selatan sendiri adalah pengalaman tersendiri. Aspalnya masih sangat mulus, dan sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan laut lepas serta deretan pantai yang menggoda. Sebelum tiba di Pantai Lumbung, rasanya sudah lebih dari lima pantai yang kami lewati. Jadi bagi siapa pun yang ingin berwisata pantai di kawasan Blitar dan sekitarnya, saya sangat menyarankan untuk menggunakan JLS β selain aksesnya lebih mudah, pemandangannya pun luar biasa indah.
Pantai Lumbung: Indah tapi Hanya Bisa Dipandang
Kami tiba di Pantai Lumbung sekitar pukul 12.00 WIB. Saat itu tidak ada biaya parkir maupun tiket masuk β kami langsung masuk dan memarkirkan mobil. Yang perlu diketahui, dari area parkir ternyata masih harus menuruni jalan yang cukup terjal untuk mencapai bibir pantai. Meskipun sudah tersedia tangga, medannya cukup menantang sehingga kurang disarankan bagi pengunjung berusia lanjut.

Pantai Lumbung tidak mengecewakan. Pasir putihnya bersih, lautnya biru menawan, dan yang menjadi ciri khas utama pantai ini adalah sebuah tebing batu tunggal yang berdiri terpisah dari tebing-tebing lainnya di tepian pantai. Formasi batu inilah yang kerap menjadi objek foto favorit para pengunjung β dari foto-foto yang beredar di internet, banyak orang bermain di balik tebing tersebut.


Sayangnya, saat kami tiba laut sedang pasang tinggi. Ombak besar menghantam hampir seluruh permukaan pantai, sehingga tidak memungkinkan untuk turun bermain air. Kami hanya bisa menikmati keindahannya dari atas dan dari ujung tangga saja.


Pantai Pacar: Pasang Tinggi Lagi
Karena niat awal kami memang ingin bermain air, dan hal itu tidak bisa terwujud di Pantai Lumbung, kami segera bergerak menuju Pantai Pacar yang jaraknya hanya sekitar 2 km. Harapannya, di sana masih ada sisa tepian yang cukup untuk bermain air.

Namun ternyata kondisinya tidak jauh berbeda. Meskipun lahannya lebih luas dan garis pantainya lebih panjang, air pasang sudah menutupi seluruh area pantai. Bermain air tetap tidak memungkinkan. Berbeda dengan Pantai Lumbung yang gratis, di sini kami dikenakan tiket masuk sebesar Rp10.000.

Sebelum memutuskan tujuan berikutnya, kami menyempatkan mengisi perut di salah satu warung di sekitar Pantai Pacar. Saya memesan bakso, dua anak saya menghabiskan bekal dari rumah, sementara istri hanya memesan es teh manis.
Pantai Pangi: Akhirnya Bermain Air!
Selesai makan, kami sepakat menuju Pantai Pangi β pantai yang sebelumnya sudah pernah kami kunjungi. Alasan utamanya sederhana: dari pengalaman, Pantai Pangi tetap bisa dinikmati untuk bermain air meskipun sedang pasang, berkat posisinya yang berada di teluk.
Perjalanan dari Pantai Pacar hanya memakan waktu sekitar 15 menit. Bagi saya pribadi, ini sudah kunjungan keempat. Dua kali pertama sekitar tahun 2015β2016, saat JLS belum ada dan akses menuju pantai masih rusak parah β dari tempat parkir masih harus berjalan kaki sejauh 2 km untuk sampai ke pantainya. Kondisi yang sangat berbeda dengan sekarang, di mana jalan beraspal sudah langsung menuju lokasi.

Sesampainya di Pantai Pangi, kami membayar parkir Rp10.000, lalu langsung menuju pantai. Saya dan anak-anak segera bermain air, sementara istri β yang tidak ingin basah-basahan β memilih duduk agak jauh dari bibir pantai sambil mengawasi kami.
Perbedaan utama Pantai Pangi dibanding dua pantai sebelumnya adalah posisinya yang berada di ceruk teluk, bukan langsung menghadap samudera lepas. Ombaknya jauh lebih kecil dan lebih aman untuk bermain air. Soal pemandangan, Pantai Pangi sama sekali tidak kalah β laut biru bertemu langit biru, perpaduan yang selalu memanjakan mata. Dari pengalaman saya sebelumnya, jika datang pagi hari saat air masih surut, kita bisa melihat kumpulan karang, ikan-ikan kecil, bahkan bulu babi di dasar air yang jernih.



Kami cukup lama menikmati Pantai Pangi, hampir hingga menjelang sore sekitar pukul 14.40 WIB. Setelah puas bermain, kami bergegas mandi untuk membersihkan pasir yang menempel di badan dan rambut, lalu kembali pulang ke kota.
Tips Perjalanan
Rute: Dari Kota Blitar, arahkan perjalanan ke arah Pantai Tambakrejo terlebih dahulu, lalu ambil Jalur Lintas Selatan (JLS). Rute ini lebih panjang tapi jauh lebih nyaman, dan pemandangannya indah sepanjang jalan.
Biaya (Maret 2026): Pantai Lumbung gratis, Pantai Pacar Rp10.000 (tiket masuk), Pantai Pangi Rp10.000 (parkir mobil).
Catatan: Perhatikan kondisi pasang-surut sebelum berangkat. Saat air pasang, Pantai Lumbung dan Pacar hampir seluruhnya terendam. Pantai Pangi lebih aman karena posisinya di teluk. Untuk Pantai Lumbung, siapkan fisik yang prima karena aksesnya cukup terjal dari parkiran.
π¬ Comments (0)
Leave a Comment
π No comments yet. Be the first to share your thoughts!