-->

"Di ujung lelah aku masih berharap β€” masih ada jalan untuk kembali pulang."


Baderan: Awal dari Segalanya

resort_siubondo
Pos Resort Konservasi Wilayah Situbondo β€” titik awal semuanya

Pagi menyambut tujuh pemuda lusuh di sebuah warung kecil di sudut Desa Baderan, Situbondo. Enam jam perjalanan dari Surabaya terasa di setiap lekuk tubuh kami, tapi semangat belum padam. Sebentar lagi, kami akan mendaki Gunung Argopuro β€” gunung suaka margasatwa seluas 14.177 Ha yang berdiri di perbatasan Kabupaten Probolinggo dan Situbondo dengan puncak setinggi 3.088 mdpl.

Kami bertujuh: Miko, Tebo, Dion, Jarjit, Alfian, Farid, dan Holis.

Urusan perizinan di pos pendakian ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Seorang petugas kehutanan mencecar kami selama dua hingga tiga jam β€” terutama Dion yang lupa membawa KTP. Belum lagi soal SIMAKSI yang tidak kami bawa, padahal dokumen itulah syarat resmi masuk kawasan suaka margasatwa ini. Sang petugas akhirnya mengizinkan kami melanjutkan perjalanan, resmi atau tidak.


hutan_pinus
Jalur awal menembus hutan pinus β€” baru beberapa jam, punggung sudah berat

Tepat tengah hari kami berangkat, menargetkan Pos Mata Air 1 dalam tiga jam. Kenyataannya, hujan yang mengguyur tanpa henti mengubah tanah menjadi papan seluncur alami. Sandal gunung saya menyerah di tengah perjalanan, memaksa saya melanjutkan jalan dengan sandal jepit milik Tebo. Sementara itu, Farid yang mulai sempoyongan bertukar tas dengan Holis yang hanya membawa daypack.

pos_mata_air_1
Pos Mata Air 1 β€” akhirnya, setelah hampir 7 jam berjalan

Hampir tujuh jam kami mengarungi kedalaman rimba sebelum akhirnya tiba di Pos Mata Air 1 β€” jauh melewati perkiraan awal. Tenda didirikan, air diambil Tebo dan Dion dari sumber yang letaknya cukup jauh, dan Jarjit langsung bergerak memasak nasi dengan lauk sarden dan sosis.

enam_orang
Kelelahan terbayar β€” senyum di Pos Mata Air 1
memasak
Jarjit dan tim menyiapkan makan malam β€” nasi sarden dan secangkir jahe hangat

Secangkir jahe hangat menutup malam yang melelahkan itu.


Malam Pertama: Ketika Macan Mengetuk Tenda

Saya sudah terlelap ketika keributan kecil membangunkan saya. Jarjit masuk ke tenda dengan napas tersengal.

"Ada macan."

Dion yang melihatnya langsung menggambarkan sosok itu β€” mata besar berwarna kuning menyala, berbulu hitam. Jantung saya berdegup kencang. Dalam kepanikan yang saya coba sembunyikan, saya hanya bisa menggenggam doa dalam hati, berharap malam segera berlalu.


Sabana, Bukit Teletubbies, dan Landasan Jepang

Sinar pagi menghapus ketakutan semalam. Sarapan nasi tempe dan sosis mengisi kembali tenaga, lalu kami melanjutkan perjalanan menuju Cikasur. Rute dari Pos Mata Air 1 melewati Pos Mata Air 2, Sabana Kecil, hingga Sabana Besar β€” hamparan padang rumput kering kekuningan yang bergelombang, persis seperti latar video klip Sebelum Cahaya milik Letto.

sabana
Sabana Argopuro β€” keindahan yang hanya bisa dirasakan langsung
plang_alun_kecil
Alun-Alun Kecil β€” tanda kami masih di jalur yang benar

Di Sabana Kecil kami sempat berhenti membuat energen dan kopi. Perjalanan berlanjut melintasi sabana demi sabana.

di_kejauhan
Sabana besar β€” terlihat kecil kami di hadapan luasnya alam

Lima jam kemudian, kami tiba di Cikasur pukul 16.30.

sabana_kecil
Cikasur β€” sabana bersejarah bekas pangkalan militer Jepang

Di tengah padang sabana yang luas, masih bisa dilihat fondasi-fondasi beton bekas landasan pesawat tentara Jepang. Di dekat area kemah kami pun terdapat puing-puing barak militer yang setengah runtuh.

shelter_cikasur
Pondok Cikasur β€” di balik dindingnya tersimpan sejarah perang

Lembayung senja di Cikasur seakan memantulkan bayang-bayang sejarah yang terlupakan.

pohon_senja_cikasur
Senja di Cikasur β€” salah satu pemandangan paling membekas dalam perjalanan ini

Malam di Cikasur ditemani suara kucing-kucing hutan yang bersahutan dari segala penjuru. Api unggun akhirnya menyala setelah susah payah, dan di sekelilingnya mengalir obrolan dari hati ke hati. Saya hanya menjadi pendengar β€” dan kadang itu sudah lebih dari cukup.

bukit_teletubies
Bukit Teletubbies Cikasur β€” tidak ada nama resminya, tapi siapa pun yang melihat pasti setuju

Rawa Embik: Titik Terdingin

pendaki_sabana
Melanjutkan perjalanan dari Cikasur β€” semangat masih terjaga

Perjalanan menuju Rawa Embik hampir berakhir bencana sejak awal. Kami terlanjur mengambil jalur yang melewati Bukit Teletubbies β€” jalur yang salah. Selama hampir satu jam kami berjalan ke arah yang keliru, hingga bertemu seorang bapak yang hanya bisa diajak bicara dalam bahasa Madura. Holis menjadi juru bicara dadakan, dan kami pun menyadari jalur itu mengarah ke Aing Ngakal (air panas), bukan Cisentor.

jalur
Padang lavender di jalur Cisentor β€” indah, tapi jangan salah jalur lagi
to_cisentor
Salah satu tanjakan sebelum Cisentor β€” carrier terasa dua kali lebih berat

Setelah meluruskan jalur, medan menuju Cisentor melewati bukit yang dipenuhi tanaman jancukan β€” duri yang menimbulkan rasa gatal, perih, dan panas sekaligus. Tidak satu pun dari kami yang lolos tanpa bekas.

jancukan
Jancukan β€” tanaman yang namanya sudah menggambarkan rasanya

Dua setengah jam kemudian kami tiba di Cisentor β€” pos pertemuan jalur dari Baderan, Bremi, dan Jember.

plang_cisentor
Pos Cisentor β€” napas lega, sebentar lagi Rawa Embik

Dari Cisentor, perjalanan berlanjut menuju Rawa Embik. Jalan yang tadinya dominan datar kini berganti tanjakan. Kami juga menjumpai banyak pohon edelweis di sini, sayang bunganya masih kuncup.

plang_rawa_embik
Pos Rawa Embik β€” kami tiba, dan dinginnya langsung menyergap

Rawa Embik adalah titik terdingin Argopuro. Sebuah lembah dengan padang rumput kering dan sungai kecil di tengahnya.

cisentor
Sungai Rawa Embik β€” sumber air utama kami selama berkemah di sini

Suhu diperkirakan bisa turun hingga 3–5 derajat Celsius, diperparah oleh angin lembah yang merayap pelan. Saya langsung bersembunyi di dalam sleeping bag begitu tenda berdiri.

rawa_embik_tenda
Pagi di Rawa Embik β€” dingin menusuk, tapi hati hangat

Puncak Dewi Rengganis dan Argopuro

Keesokan paginya, enam dari kami meneruskan perjalanan ke puncak. Farid memilih menjaga tenda β€” ia sudah pernah menginjakkan kaki di puncak ini sebelumnya.

Di padang edelweis, jalan bercabang dua: ke kiri menuju Puncak Rengganis, ke kanan menuju Puncak Argopuro. Kami mendaki Rengganis lebih dulu β€” tiga puluh menit dari pertigaan, kami sudah berdiri di atas puncak sang dewi.

puncak_rengganis
Dari Puncak Rengganis β€” Gunung Raung, Gunung Agung, dan Selat Madura terlihat jelas

Dari sini terlihat Gunung Raung, Gunung Agung di Bali, Selat Madura, dan kota-kota yang tampak kecil di kejauhan. Bau belerang dari sisa kawah tua masih samar tercium.

gunung_dikeajuhan
Pemandangan tak ternilai β€” bayaran dari setiap langkah melelahkan sebelumnya

Lalu kami bergerak ke Puncak Argopuro β€” 45 menit dengan tanjakan lebih curam, beberapa kali harus berhenti mengatur napas.

argopuro_plang
Puncak Argopuro 3.088 mdpl β€” tertinggi kedua di Jawa Timur setelah Semeru

Di sana, masing-masing dari kami menyusun batu β€” menuliskan nama-nama yang kami cintai, disimpan sendiri, tidak untuk konsumsi publik.

mom
Setiap batu menyimpan nama β€” cerita yang hanya diketahui alam dan dirinya sendiri
HMI
Puncak Argopuro β€” kami semua selamat sampai di sini πŸ”οΈ

Perjalanan Turun: Ujian Sesungguhnya

Jalur pulang kami pilih lewat Bremi. Dari Rawa Embik ke Cisentor, lalu ke Aing Keni, semua berjalan lancar. Masalah dimulai ketika jalur menuju Danau Taman Hidup semua bercabang dan buntu.

Saya menemukan kotoran macan β€” besar seperti kotoran kucing, tapi jauh lebih besar. Jarjit menemukan jejaknya. Saya memilih diam β€” tidak ingin panik menjalar ke yang lain. Air kami tinggal dua botol untuk tujuh orang.

Satu-satunya tanda yang kami temukan justru mengarah ke jalan yang terus menanjak β€” berlawanan dengan logika "turun gunung." Mental sebagian besar dari kami mulai goyah.

Selama masih ada tanda, itu pasti menuju tempat manusia berada.

Harapan itulah yang saya jaga agar mental saya tidak ikut runtuh.

Malam tiba. Kami menemukan bekas kemah seseorang β€” abu unggun dan shelter dari ranting kayu β€” dan mendirikan tenda di sana. Tak lama kemudian, Jarjit dan Farid yang maju memeriksa jalur ke depan kembali membawa kabar: mereka melihat cahaya kota dari balik bukit. Alhamdulillah.

Esok paginya, dengan perut kosong dan air tinggal separuh botol, kami menelusuri jalur setapak yang hampir tertutup rumput. Sesampainya di puncak bukit, terhampar Gunung Arjuno, Welirang, dan Penanggungan di kejauhan. Tepat di depan, Pegunungan Tengger dengan Bromo dan Semeru berdiri gagah. Harapan yang tadinya hanya secercah cahaya, kini menjadi kenyataan.

kebun_warga
Kebun dan ladang warga Bremi β€” dunia manusia akhirnya kembali terlihat

Dari bukit itu, perjalanan turun ke Bremi berjalan mulus.


Pulang: Selamat Datang di Dunia Nyata

gate_taman_hidup
Gerbang Taman Hidup β€” pintu antara dua dunia yang baru saja kami lintasi

Bremi menyambut kami dengan pemandangan desa yang tenang. Setelah berhari-hari hanya melihat hutan, sabana, dan langit malam β€” melihat genting rumah dan wajah-wajah warga terasa seperti mimpi yang menjadi nyata.

resort
Taman Hidup β€” nama yang terasa sangat pas setelah bermalam-malam di kegelapan hutan
warung_mbok_tomsla
Peradaban pertama yang menyambut kami: nasi Rp 2.500. Tidak pernah terasa semewah ini.
polres_bremi
Semua selamat. Semua pulang. Argopuro sudah kami seberangi β€” dari Baderan sampai Bremi.

Kami pulang β€” tujuh pemuda, semua selamat, tidak kurang satu pun.


Penutup

Argopuro bukan sekadar gunung. Ia adalah cermin β€” tempat di mana kita dipaksa melihat diri kita sendiri apa adanya: kecil, rapuh, tapi juga tangguh dan penuh harapan.

Argopuro mengajarkan aku arti bersyukur.
Argopuro mengajarkan betapa Maha Besarnya sang Pencipta.
Argopuro mengajarkan betapa kecilnya manusia di hadapan alam.