Malam tadi kita hampir saja mengulang kisah lama. Menit ke-110, Thailand 2, Indonesia 1. Keunggulan satu gol dan satu pemain sudah lenyap, dan perasaan lama itu muncul kembali, perasaan yang sudah sangat dikenali oleh penggemar timnas. Bukan marah, bukan sedih, tapi semacam kepasrahan yang akrab. Ya, begini biasanya. Kita sudah pernah di sini berkali-kali.

Perasaan itu dibentuk oleh final-final yang lepas, oleh gol menit akhir yang bersarang di gawang kita, oleh pertandingan yang dimenangkan di atas kertas tapi tergelincir di lapangan. Ia begitu akrab sampai banyak dari kita menganggapnya watak bawaan. Indonesia itu memang begitu, kata orang: berbakat tapi rapuh, berani di awal dan goyah di akhir.

Dua pertandingan terakhir di ASEAN Cup menolak kesimpulan itu. Melawan Bangladesh, Indonesia harus mencetak gol sebanyak-banyaknya demi mengejar defisit selisih gol dari Malaysia yang menjadi pemuncak grup sementara. Dua menit sebelum peluit panjang, Indonesia masih membutuhkan dua gol untuk melaju ke partai puncak, sesuatu yang tampak mustahil. Namun, dua gol itu tercipta hanya dalam rentang satu menit.

Di partai final, Indonesia dihadapkan pada bayang-bayang masa lalu bernama Thailand. Entah berapa final dilewati dengan Thailand sebagai tembok pemisah antara kita dan piala. Terakhir kali kita merobohkan tembok itu adalah final SEA Games 1991 di Manila lewat drama adu penalti, tepat 35 tahun lalu, persis umur saya tahun ini. Artinya, tahun ketika saya terlahir adalah kali terakhir kita berdiri di podium tertinggi Asia Tenggara. Sisanya, tembok itu selalu terlalu kokoh untuk diruntuhkan.

Malam tadi tembok itu hampir kembali tegak. Namun, di sisa waktu perpanjangan, kita memaksakan skor imbang, dan tembok puluhan tahun itu akhirnya runtuh di babak adu penalti, dengan cara yang sama persis seperti 35 tahun silam.

Untuk mencapai titik ini bukan hal yang mudah, ratusan kekecewaan harus dilewati, ribuan harapan yang berkali-kali dipatahkan, serta tangisan-tangisan yang tertahan menahun, dan akhirnya malam tadi semua gumpalan itu pecah menjadi harapan yang menjelma.

Di antara gempuran kabar yang menyesakkan belakangan ini, inilah satu kabar yang mengingatkan bahwa negeri ini masih punya harapan. Bukan harapan kosong yang jatuh dari langit, melainkan harapan yang dibuktikan oleh orang-orang yang menolak berhenti berlari.

Godaan terbesar setelah malam seperti ini adalah menampik kekalahan-kekalahan kita sebelumnya. Godaan itu keliru. Kekalahan-kekalahan yang lalu juga bagian dari diri kita. Kemenangan ini tidak membuktikan bahwa kita akan selalu hebat, melainkan menunjukkan bahwa kapasitas untuk tidak menyerah itu ada dan nyata. Ia bukan mitos masa lalu yang gaib, melainkan kapasitas yang bisa dipanggil keluar saat dibutuhkan.

Menariknya, lihat siapa yang memanggil kapasitas itu keluar di lapangan. Rizky Ridho lahir dan ditempa di Surabaya. Egy Maulana Vikri tumbuh di Medan. Ole Romeny datang membawa darah keluarganya dari Nijmegen, sementara Emil Audero lahir di Mataram dan meniti karier panjang di Italia sebelum memutuskan pulang. Mereka tidak berbagi masa kecil, dialek, atau pengalaman tumbuh yang sama. Yang mereka bagi di lapangan adalah keputusan: memakai lambang yang sama dan menolak menyerah pada menit ke-110.

Di situ letak hal yang lebih besar dari sepak bola. Kita kerap membayangkan keindonesiaan semata-mata sebagai warisan biologis atau dongeng masa lalu yang diterima begitu saja. Tim ini memperlihatkan hal sebaliknya: keindonesiaan juga adalah sebuah pilihan sadar. Seorang pemain dari Nijmegen dan seorang pemuda dari Surabaya sama-sama mewakili Indonesia bukan karena darah murni masa silam, melainkan karena komitmen bersama bertarung di bawah nama yang sama.

Jika keberanian dan daya tahan adalah pilihan, maka rasa rendah diri yang kerap menghantui kita di panggung dunia juga merupakan pilihan. Bukan takdir sejarah, bukan kutukan pascakolonial yang permanen. Rasa minder itu bisa ditanggalkan sebagaimana dulu ia pernah diadopsi.

Trofi ini tentu tidak serta-merta membereskan persoalan bangsa esok pagi. Namun, ia meninggalkan satu preseden yang konkret: sebelas orang di lapangan ditambah belasan lain di bangku cadangan, dengan latar belakang yang amat berjarak, pada menit yang nyaris habis, menolak tunduk pada skenario lama. Cerita kekalahan itu ternyata bisa dihentikan.